close
Meta777
Breaking News
recent

Pernahkah Di Permalukan Guru Depan Kelas Tapi Kamu Punya Respons Yang Brilian?

 Pernahkah Di Permalukan Guru Depan Kelas Tapi Kamu Punya Respons Yang Brilian? Pernahkah Di Permalukan Guru Depan Kelas Tapi Kamu Punya Respons Yang Brilian?

Pernahkah Di Permalukan Guru Depan Kelas Tapi Kamu Punya Respons Yang Brilian?

Tertarik untuk menjawab setelah membaca pertanyaan ini. Ah ya, ini tulisan pertama saya di Quora. Maaf kalau ada salah kata atau terlalu berbelit-belit.

Semasa sekolah, saya termasuk anak yang berprestasi. Di SMP pun saya masuk kelas unggul dan menjadi lulusan terbaik. Namun, saat menjadi pelajar putih abu, saya mengalami beberapa kegagalan yang mengakibatkan saya harus bersekolah negeri di Kota Jambi.

SMA yang saya masuki ini merupakan salah satu SMA terbaik di Provinsi. Dikenal sebagai sekolah langganan juara, sekolah ini jadi sekolah yang diincar banyak orang.

Akhirnya saya masuk sekolah ini dari jalur prestasi dan berhasil masuk ke jurusan IPA. Dari awal saya sadar betul saya salah jurusan. Saya tidak suka hitung-hitungan dan tidak mengerti fisika, apalagi kimia. Pelajaran yang saya kuasai hanyalah pelajaran yang melibatkan hafalan. Namun, karena stigma 'anak IPA cerdas', saya memaksakan diri bertahan di jurusan ini.

Dampaknya? Nilai merosot tajam, terutama pada pelajaran Kimia. Itu terus berlanjut hingga kelas XI. Saya benar-benar tidak memahami materi yang diajarkan.

Tau bahwa saya buruk di akademik, saya berusaha meningkatkan kemampuan diri dengan mengikuti berbagai kompetisi. Mulai dari debat, story telling, cerpen, karya tulis, hingga mengikuti pemilihan duta.

Oktober 2015, saya terpilih mewakili Provinsi Jambi untuk mengikuti karantina duta nasional. Sebelum pergi, saya sudah memastikan bahwa tidak akan ada UTS di minggu perlombaan saya.

Lalu, saya mendapat kabar bahwa UTS Kimia diselenggarakan saat saya berangkat. Itu berarti saya harus ikut ujian susulan. Pasrah dengan ujian, saya memilih untuk menjawab asal dan menerima konsekuensi atas tindakan saya.

Saya mengumpulkan lembar ujian tanpa kertas coretan (karena saya hanya memilih asal, tidak mencari sama sekali). Guru Kimia saya (Bu F) menganggap bahwa saya mencontek dan sudah dapat bocoran jawaban dari teman yang lain. Intinya, lembar ujian saya tidak diterima.

Saya coba jelaskan bahwa, periksa dulu kertas jawaban saya. Baru bisa ditarik kesimpulan apakah saya mencontek. Jika nilai saya di atas KKM, baru patut dicurigai. Namun, guru tersebut teguh menolak lembar ujian saya.

Yang bikin saya kesal setengah mati, ia menuduh saya mencontek di hadapan teman sekelas. Di saat jam pulang. Saat kondisi kelas sedang ramai. Dia marah-marah di depan kelas saya (yang mana kelas saya dekat dengan gerbang sekolah).

Sebagai pengganti ujian, saya diberikan tugas pengganti membuat kliping dari koran. Tugas tersebut harus dikumpulkan besok saat jam pelajaran dia. Saya ingat betul omongan dia (ada saksi juga dari teman yang lain).

Namun, di tengah pelajaran Bahasa Jepang (jam 9 lewat), saya dipanggil ke ruang guru. Di ruang guru, saya dibentak di hadapan guru yang lain. Saya malu sekali. Padahal dia yang memberi perintah untuk mengumpulkan tugas di saat jam pelajaran dia (jam terakhir-sekitar jam 12an), namun dia sendiri yang melanggar ucapannya.

Saya ingat betul hari itu saya jadi tontonan guru-guru. Dibentak di saat jam istirahat. Sendirian. Tidak diberi kesempatan untuk membela diri.

Seolah belum cukup, ia kembali mempermalukan saya lagi. Di kelas saya disuruh mengerjakan soal di papan tulis. Ketika saya tidak bisa menjawab, saya di cap "BODOH, TOLOL, BEGO DAN TIDAK MASUK PTN" di hadapan teman sekelas.

Kejadian tersebut membuat saya malu dan takut ke sekolah. Saya menangis hingga keesokan harinya, ayah saya pergi ke sekolah menanyakan duduk perkaranya. Perlu diingat bahwa, di sini ayah saya tidak menyalahkan guru tersebut. Ia hanya ingin mendengar dari sudut pandang Ibu F saja.

Saya sempat memperkarakan kejadian tersebut (melakukan konsultasi dengan guru BK). Saya mengaku saya salah, namun bukan berarti guru tersebut bisa terus-terusan mempermalukan saya.

Pihak BK pun tidak membantu banyak. Saya hanya disuruh bersabar dan masuk kelas seperti biasa.

Kurang lebih selama 2 minggu lebih (atau sebulan ya, saya lupa). Saya disuruh mengerjakan soal. Jika saya tidak bisa, saya disuruh berdiri hingga jam pelajaran berakhir.

Tidak mau diperlakukan seperti itu terus menerus, sebulan menjelang UAS, saya belajar mati-matian dengan teman sekelas saya yang bernama Dennis. Saya bisa menguasai materi kimia dengan mudah. (Ini menandakan bahwa sebenarnya saya bisa memahami pelajaran Kimia, namun tergantung cara ajarnya).

Singkat cerita, saya naik ke kelas XII. Saya masih siswa yang tidak menonjol dari segi akademik. Nilai saya biasa saja. Namun, saya didukung dengan prestasi di bidang non akademik. Berkali-kali saya mewakili Jambi di kompetisi nasional. Bahkan, Agustus-Oktober 2016, saya berhasil menjadi peserta dalam 4 kompetisi nasional. Gabung di Situs dewacintaqq bandar poker online indonesia

Ucapan Ibu F yang menganggap bahwa saya "BODOH, TOLOL, BEGO, dan TIDAK MASUK PTN" berbekas di ingatan saya (hingga kini).

Saya jadikan pengalaman buruk tersebut sebagai pecutan semangat. Saya harus membuktikan bahwa ucapan guru tersebut salah.

Bagaimana kelanjutannya?

Saya jadi satu dari dua orang pelajar SMA Jambi yang berhasil masuk Universitas Indonesia dari Jalur PPKB (semacam SNMPTN namun khusus UI).

Dua tahun berselang. Saya terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi di fakultas dan menjadi Finalis Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia bersama 16 mahasiswa pilihan lainnya.

Akademik saya? Sangat baik. Untuk orang yang di cap bodoh-tolol-gak masuk PTN, nilai saya sangatlah membanggakan.

Non akademik? Masih aman. Saya pernah mewakili Indo dalam acara se-ASEAN. Tak hanya itu, saya juga berhasil meniti karir di usia muda dan mewawancarai beberapa menteri.

Lewat tulisan ini, saya tidak berniat menyombongkan diri sama sekali. Saya ingin menyampaikan pesan, hati-hati dalam menjaga lisan.

Kita tidak pernah tahu masa depan seseorang. Jadi, jangan mudah melabeli seseorang dengan perkataan buruk.

Apalagi sebagai tenaga pendidik, tidak seharusnya bersikap seperti itu. Tenaga pendidik harusnya bisa menjadi contoh dan suri tauladan yang baik bagi anak ajarnya, bukan bertindak sebaliknya (mempermalukan orang lain demi ego pribadi).

Kedua, label. Jangan mudah melabeli seseorang.


Saat saya di cap "Bodoh", selama 1,5 tahun saya benar-benar menganggap diri saya bodoh dan tidak akan masuk PTN. Efek kejadian tersebut membuat saya pesimis dengan diri sendiri.

(Bersyukur saya punya orang tua yang mendukung dan mengembalikan kepercayaan diri saya seperti sekarang).

Ketiga, lingkungan benar-benar menentukan keberhasilan kalian.

Andai saya memutuskan untuk menetap di lingkungan dulu, saya yakin betul bahwa saya tidak akan se-berhasil sekarang. Untuk Ibu F, saya memaafkan namun tidak bisa melupakan. Saya harap, Ibu sekeluarga sehat terus dan saya sangat berharap anak Ibu tidak mengalami tindakan yang saya alami dulu.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.